“Kaum revolusioner sejati tidak ditandai oleh teriak dan mulut gede, tapi dengan aksi dan ide.” ~ Sebuah Buku, Pagi & Hal-Hal Yang Dipungut Kembali; Sejumlah Epigram, Goenawan Mohamad, hal.18, bab.4.
perpisahan adalah hal yang mampu mengekalkan segalanya.
bolehkah kuminta satu permintaan padamu; jagalah perpisahan, jangan biarkan ia pergi terlalu jauh, jangan biarkan ia tersesat terlalu lama.
tak ada hidup yang tersisa ketika mati, dan tak ada pilihan lain selain menikmati kematian. maka hiduplah dengan kenikmatan dan matilah dengan sungguh-sungguh mati.
Monolog Dipinggir Malam.
Aku masih mempunyai perasaan yang sama sejak beberapa bulan lalu, belum berubah. Tidak, bukan seperti bumi, hanya saja seperti besi. Kau tahu besi, bukan? Padat dan keras. Pukulkan ia ke batu, bentuknya masih sama walau sedikit penyok. Begitulah rinduku. Aku mempunyai rindu yang sengaja kutempa, sengaja ku bakar dalam bara api. Ia mengeras, ia tak mudah patah, hanya saja terlalu berat. Berat, tidak terlalu berat. Rinduku bukan besi yang besar dan berton-ton tumpukan. Rinduku hanya sekumpulan besi kecil, ia menusuk. Rinduku tepat menusuk disela-sela hati, ia tertancap rapi. Membentuk satu gugusan rasa yang hampir sama dengan perih. Persis. Pernah aku bertarung, sengit, dengan rinduku sendiri. Ia tak mau kalah, akupun begitu. Rindu memukul ku telak, ia pintar, ia menggunakanmu. Rindu menggunakan namamu, ia menulisnya, aku melihat dan membaca sekali lagi nama mu, aku lemah, aku ditinju, aku merindu. Aku dihantam bertubi-tubi oleh besi, oleh rindu yang tertawa, semakin di pukul aku dari segala penjuru arah. Bayangkan aku sebagai petinju amatiran yang ditantang petinju profesional. Lalu, bayangkan bagaimana rindu meninjuku berkali-kali. Ah, kupikir, dengan kau membayangkan aku bertarung dengan rindu. Kau akan mampu merindukanku lagi. Seharusnya, aku belajar untuk tidak bertarung lagi, dengan kerinduan pastinya. Aku hanya ingin belajar menjadi lelah, menjadi tersiksa. Bukankah membayangkan tidak pernah salah?
Aku Pernah dan Masih Merindukanmu.
Pernah aku bercakap-cakap dengan sunyi, ia berdiam diri sebelumnya diranting akasia, hatinya sedang berduri, ia menangis, ia rindu, padamu.
Aku pernah saling bisik dengan kupu, ia terbang rendah perlahan. Rapi mencium bunga mekar, lalu menulis dan menitip rindu pada kelopak-kelopak bunga, tentangmu.
Aku pernah saling berpas-pasan dengan angin. Dijalan, ia menegur sapa, tersenyum, persis senyum mu, lalu rindu mengusungmu, sekali lagi.
Pernah pula aku menangkap selembar daun jatuh. Ia meringis, ringkih, sedih, menangis. Terpisah dari ranting, ia tahu bagaimana rasanya merindu.
Pernah aku begitu merindukanmu, layaknya mentari yang rindu dipeluk rembulan.
katamu hidup adalah sekumpulan cerita. ya, cerita, yang sengaja aku ciptakan dengan skenario baru, tentangmu, masih tentangmu.
Mengenang Jakarta, Negeri Sengsara.
Mengenang Jakarta
Jalanan basah
Hujan yang mendera, kencang pula anginnya
Angkutan umum berlari, mengejar kaki-kaki
Sepatu yang basah
Payung yang tak kuat dicengkeram
Lengan menggigil
Geretak bunyi gigi
Lampu merah, pengemis muda
Bunyi ukulele dan recehan tak banyak
Botol plastik bekas dan tangkup jemari mungil
Berebut, berlari mencari nasi dibalik kaca-kaca mobil
Yang mewah, yang bermuka dua pengemudinya
Jalan layang, teduh dari air dan mentari terik
Ayunan dari kain
Bergoyang, berdansa
Ada mimpi yang terbungkus kertas nasi basi
Tak ada lagi lapar, tak ada lagi haus
Air kali, tak bersih, bagai pepsi atau coca cola
Yang memang sama saja rasanya
Bagi perut dan tenggorokan yang perih
Mengenang jakarta
Gedung-gedung megah
Kokoh kaki besi merajalela
Dikursi empuk ruang kantor ber-Ac
Foto mesra, kenangan indah terasa
Meja rapi dihiasi uang gelimpangan
Tak dilihat telapak kakinya kotor
Menginjak lumpur-lumpur masalalu darah penjajah
Masih tertinggal di kolong jembatan palmerah
Mengenang Jakarta
Percuma
Kota Indonesia
Katanya Ibu Kota Negara
Anak-anak nya melarat sengsara
Mengenang Jakarta
Percuma saja
Tuhan selalu tahu, bahwa dalam diammu tersimpan beribu untaian doa yang kau rapal ketika sujud dan tengadah lemah pada malam yang tak lagi ramah.
bukankah seharusnya lebih baik jika kita saling berpelukan sesambil membisikkan doa-doa pendek daripada membacakan puisi-puisi cinta. katakan mana yang lebih baik?
